Sabtu, 18 April 2015

Estimasi

Apakah yang dimaksud dengan 'Estimasi' ?
Estimasi adalah salah satu proses utama dalam proyek
konstruksi untuk mengetahui besarnya dana yang harus disediakan untuk sebuah
bangunan. Pada umumnya, sebuah proyek konstruksi membutuhkan biaya yang
cukup besar. Ketidaktepatan yang terjadi dalam penyediaannya akan berakibat
kurang baik pada pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Bagi pemilik proyek
(owner), estimasi biaya diperlukan sebagai pegangan dalam menentukan
kebijakan yang dipakai untuk menentukan besarnya investasi yang harus

dilaksanakan.

Contoh Estimasi :
Estimasi biaya dan usaha perangkat lunak tidak akan pernah menjadi ilmu pasti. Variabel yang terlalu banyak, manusia, teknik, lingkungan, politik dapat mempengaruhi biaya dan usaha akhir yang diaplikasikan untuk mengembangkannya. Ada sejumlah pilihan untuk mencapai estimasi biaya dan usaha yang dapat dipertanggungjawabkan :
-Menunda estimasi sampai akhir proyek (estimasi akurat 100% bila proyek sudah selesai)
-mendasarkan estimasi pada proyek-proyek yang mirip yang sudah dilakukan sebelumnya.
-menggunkana “teknik dekomposisi” yang relatif sederhana untuk melakukan estimasi biaya dan usaha proyek.-menggunakan satu atau lebih model empiis bagi estimasi usaha dan biaya PLPerkiraan Biaya
-Ruang Lingkup proyek harus didefinisikan secara eksplisit
-Tugas dan atau dekomposisi fungsional diperlukan
-Pengukuran historis sangat membantu-Paling sedikit harus digunakan dua teknik berbeda-Harus diingat bahwa ketidakpastian adalah hal yang tidak dapat dipidahkan (dari proyek PL).Akurasi Estimasi perangkat lunak ditentukan oleh:
-Ukuran yang diperkirakan dari produk.-Kemampuan untuk menterjemahkan ukuran ke satuan usaha, waktu dan anggaran.
-Kemampuan tim menyesuaikan dengan rencana proyek.-Stabilitas kebutuhan dan lingkungan.Secara ideal, teknik yang ditulis untuk masing-masing pilihan harus diaplikasi secara berpasangan, masing-masing digunakan sebagai cross check bagi yang lain. Pada estimasi proyek PL, teknik dekomposisi mengambil cara “membagi dan mengalahkan.”Model estimasi empiris dapat digunakan untuk melengkapi teknik dekomposisi serta menawarkan pendekatan estimasi yang secara potensial berharga. Model berbasis pengalaman dan berbentuk :D = f(vi)Dimana d adalah satu dari sejumlah harga estimasi (contoh usaha, biaya, durasi proyek) dan vi adalah parameter independen yang dipilih (seperti LOC dan FP yang diestimasi). Peranti estimasi otomatis mengimplementasi satu atau lebih teknik dekomposisi atau model empiris.




Menurut Anda apakah kesulitan terbesar pada saat harus melakukan estimasi :

Problema ‘Over-Estimate’ Dan ‘Under-Estimate’

Estimasi yang berlebihan bisa menyebabkan waktu penyelesaian proyek molor dari biasanya. Hal ini bisa dijelaskan menggunakan hukum :

    Parkinson’s Law : ‘work expands to fill the time available’. Bila staf diberi target yang mudah akan bekerja kurang keras.
    Hukum Brooks’ Law : ‘ Putting more people on a late job makes it later’. Biaya yang diperlukan untuk mewujudkan sebuah proyek akan meningkat secara tidak proporsional terhadap jumlah staf yang dipekerjakan.  Bila estimasi biaya yang diperlukan berlebihan menyebabkan  jumlah staf yang dialokasikan lebih banyak dari yang diperlukan dan overhead manajemen akan meningkat.

Jumat, 17 April 2015

Poltracking: Tingkat Kepuasan Masyarakat terhadap Pemerintahan Jokowi-JK Rendah

Opini(Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Joko Widodo - Jusuf Kalla memberikan keterangan pers di rumah dinas gubernur DKI Jakarta, Kamis (21/8/2014) malam. Joko Widodo - Jusuf Kalla mengapresiasi keputusan Mahkamah Konstitusi yang menolak seluruh gugatan pasangan Prabowo Subianto - Hatta Rajasa dalam sidang perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU).

JAKARTA, KOMPAS.com — Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla rendah. Hasil survei yang dilakukan Poltracking Institute menunjukkan, tingkat kepuasan terhadap Kabinet Kerja yang dibentuk Jokowi-JK hanya 44 persen.
Direktur Eksekutif Poltracking Institute Hanta Yudha menjelaskan, angka 44 persen merupakan gabungan persentase antara responden yang puas dan cukup puas dengan kinerja Jokowi. Namun, Hanta tidak mengungkap secara rinci berapa persentase masing-masing.
"Sebanyak 44 persen itu tingkat kepuasan pemerintah dan kabinet. Itu gabungan antara yang cukup puas dan sangat puas," ujar Hanta kepada Kompas.com, Kamis (16/4/2015).
Sementara itu, untuk tingkat kepuasan terhadap kinerja Presiden Jokowi, Hanta menuturkan, jumlahnya hanya sekitar 47 persen. Persentase lebih rendah diraih Wapres Jusuf Kalla yang hanya mampu mencapai 44,8 persen.
Menurut Hanta, rendahnya tingkat kepuasan publik terhadap kinerja kabinet disebabkan adanya sejumlah kebijakan yang diambil Jokowi-JK. Di bidang ekonomi, misalnya, keputusan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi cukup membuat rakyat menjerit. Pasalnya, masyarakat harus dihadapkan pada tingginya harga jual bahan pokok yang menjadi kebutuhan sehari-hari.
"Belum lagi tingkat kepuasan terhadap persoalan hukum. Perseteruan KPK-Polri kemarin menjadi salah satu penyebab rendahnya persentase," katanya.
Survei ini dilakukan terhadap 1.200 responden di 34 provinsi pada 23-30 Maret 2015. Adapun metode yang digunakan ialahmultistage random sampling dengan cara tatap muka. Tingkatmargin of error survei ini 2,9 persen.